
“Temui aku di punggung buaya, saat Nujuh Jerami tiba.”
Surat itu ditoreh di atas sobekan semen, sisa pembangunan. Bagi Citra setiap huruf yang di tulis dengan arang itu bagai ukiran emas. Citra adalah seorang anak kontraktor yang baru beberapa bulan pindah ke Air Abik. Citra tidak menyangka akan tinggal di pulau penghasil timah ini, bahakan mencintai pemuda suku Lom yang matanya menyimpan banyak rahasia hutan—sang penulis surat.
Panasnya matari Air Abik menyiram air muka, sinar itu seolah-olah seperti barah api yang sengaja Tuhan susupkan ke langit Bangka, agar setiap hamba-Nya tahu bagaimana rasanya terbakar sebelum benar-benar sampai ke liang lahat. Citra menyekah peluh yang mangalir deras di pelipisnya, ia tidak mengatakan “aku takut,” tetapi jermarinya mencekram erat tali ranselnya, hingga kuku-kukunya memucat.
Dihadapannya Jarum berdiri, ia tidak memakai baju kokoh ataupun kalung salib, tidak ada simbol-simbol yang dapat dikenali ayahnya. Di lehernya hanya ada seuntas tali dengan secarik kayu sebagai penolak bala. Jarum adalah penganut adat lama, baginya Tuhan tidak bersemayam di gedung-gedung tinggi melainkan ia percaya pada leluhurnya, Akek Anta, dan bisikan alam.
“Ayah tidak akan setuju Jarum, ayah mencari sosok versinya sendiri.’
“Yang seperti apa?”
“Yang jelas bukan kamu… ayah ingin aku bersanding dengan pria yang mempunyai tanda sujud yang legam atau setidaknya punya sertifikat tanah yang sah.”
Jarum tidak menyahut, ia mengambil alu kayu panjang menggengamnya dengan jemarinya yang pecah-pecah. “Aku tahu, aku memang tidak memiliki surga untuk diceritakan, dan aku juga tidak memiki harta yang cukup seperti yang diinginkan ayahmu.” Jarum menghela napas sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Karena kami disini percaya, harga diri tidak diukur dari cara kami mengadah ke langit. Melainkan dari cara kami tidak mengkianati tanah yang telah memberi kami makan.”
“Aku tahu maksudmu Jarum, hanya saja aku tidak ingin kau berurusan dengan ayahku.”
“Kenapa tidak? Aku ingin memi-”
“Apa, kau ingin meminang anakku?” tiba-tiba Ayah Citra muncul dari rimbun semak bambu, suaranya menggelegar. “Kau bahkan tidak memiliki alas kaki yang layak, ingin meminang anakku?” ayah Citra menatap Jarum dengan tatapan yang biasa ia gunakan untuk menilai kualitas timah. Kemudian ia menatap putrinya “Citra, dunia ini maju karna iman yang tampak, lihatlah pemuda ini, bagaimana ia akan memberimu makan, sedangkan jalan menuju Tuhan saja dia tidak tahu.”
“Cukup ayah, Jarum hanya bercanda. Ayok kita pulang.” Mendengar ucapan ayahnya dada Citra terasa menyempit, air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Ia menarik ayahnya berharap semua ini berakhir.
“Aku tidak bercanda, aku serius. Ehm jadi bapak mempermasalahkan imanku yah? bagaimana dengan iman bapak sendiri? sudah benar?” suara jarum terdengar serak, ia tidak bisa lagi memendam kekesalannya.
Ayah Citra ingin memotong, namun Jarum lebih dulu menyambar. “ Aku tahu bapak selalu membantu dalam pembangunan rumah ibadah untuk mencari wajah Tuhan, tapi bapak juga merusak habis alam. Tempat Tuhan memberikan kehidupan. Bagi kami ibadah ialah ketika kami tidak mengambil lebih dari yang dibutuhkan perut. Kami tidak serakah meski ini tanah kami.”
Bruk! Jarum menghantam alu ke dasar lesung dengan keras, suaranya menggelenggar memantul di antara batang-batang karet, membuat burung-burung berhamburan terbang. “Tangan yang bapak pakai mengadah, adalah tangan yang sama, yang menandatangani surat pergusuran, Mulut yang bapak pakai memuji Tuhan adalah mulut yang sama bapak pakai memerintahkan mesin-mesin meraung untuk membabat habis hutan.”
Jarum mulai menumbuk lesung kosong dengan irama cepat, sebuah pantangan besar dalam suku Lom. Secara adat menumbuk lesung kosong sama saja mengundang malah petaka, yang mendatangkan kekuatan gelap. Namun, sekarang Jarum tidak takut, baginya ada hal yang lebih mengerikan dari pada hantu-hantu hutan—yakni hilangnya hati nurani dalam diri manusia.
“Berhenti! Kau gila? Kau memanggil setan.” Teriak Ayah Citra kakinya spontan mundur ia takut pada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan secara logis.
Citra tidak lari, meski sebenarnya ia takut mendengar suara tumbukan yang keras, dengan berani ia mendekatkan diri, tangan lembutnya meraih tangan jarum. “Jarum sudah… tenanglah.”
Tatapan Jarum yang semulah berapi-api kini melembut saat bersitatap dengan Citra. “Maaf,” ucapnya. Jarum merogoh ranselnya mengambil segenggam padi merah, hasil panen. Tanpa pestidasi kimia hanya dengan tanah alam. Jarum menghampiri Ayah Citra yang tengah gemetaran entah karna takut atau karna marah.
“Ini maharku, memang tidak seberapa, tapi padi ini tubuh dari tanah yang kucintai. Terimalah ini pak.” Jarum meletakkan padi itu di telapak tangan Ayah Citra.
Tiba-tiba, dari arah sungai terdengar suara gesekan di atas lumpur. Seekor buaya muara raksasa muncul. Suku Lom percaya buaya itu adalah perwujudan Akek Anta, sang penjaga moral.
Ayah Citra kembali mundur dua langkah, wajahnya pucat pasi. Ia menatap padi merah di tangannya, lalu menatap buaya itu, dan terakhir menatap putrinya yang kini berdiri tegak di samping pemuda “tak beragama” itu. Pikirannya menerawang ke mana-mana.
“Besok Nujuh Jerami,” Jarum membuyarkan lamunan Ayah Citra. Dengan tenang, ia melangkah menaiki punggung buaya itu—sebuah pemandangan yang membuat jantung Citra nyaris berhenti. Jarum berdiri di sana, membelakangi mereka. “Jika Bapak ingin melihat bagaimana kami berterima kasih pada Pencipta, datanglah. Jika tidak, bawalah Citra pergi. Tanah Air Abik tidak suka dipijak oleh kaki yang hanya mencari untung.”
Malam harinya, sunyi menyergap rumah mereka. Ayah belum mengeluarkan sepatah kata pun. Biasanya ayahnya selalu menanyakan apakah ia sudah makan, namun hari ini tidak. Citra menatap sobekan kertas semen yang bertuliskan “Temui aku di punggung buaya, saat Nujuh Jerami tiba.” Mulai memudar karena terkena keringat dari telapak tangannya.
Di ruang tengah, Ayah Citra tidak bisa memejamkan mata. Cahaya lampu yang temaram memantul pada butiran padi merah di atas meja, padi dari tangan Jarum. Padi itu seolah-olah menjadi cermin yang menarik jiwanya masuk ke dalam pusaran waktu.
Empat puluh tahun yang lalu. Di mata Ayah kini bukan lagi ruang tamunya, melainkan sebuah gubuk bambu yang harum oleh asap kayu bakar. Ia melihat seorang wanita dengan garis wajah yang persis seperti Citra yaitu ibunya, sedang mengikat bulir-bulir padi merah. “Tanah ini, harus selalu kita jaga, ini adalah warisan luhur.” bisik Ibunya kala itu.
Namun, ingatan itu berubah menjadi pekat saat suara deru mesin buldozer perusahaan tambang meruntuhkan segalanya. Ia melihat dirinya yang masih remaja, menggenggam Alu dengan amarah karena terusir dari tanah sendiri, pergi lari ke kota, mengganti identitas, dan menjadi kontraktor sukses agar tidak ada lagi yang bisa mengusirnya. Bayangan itu buyar saat angin malam menyapa pori-porinya.
Keesokannya, pagi menyingsing. Suara tabuh lesung mulai bersahut-sahutan dari kejauhan menciptakan Simfoni yang indah. Orang-orang Suku Lom sedang bersiap menumbuk padi hasil panen mereka. Sementara Citra sedari tadi uring-uringan di kamar. Ia tidak tahan lagi. Keinginannya meluap ingin menemui Jarum, “Aku harus pergi, pasti Jarum sudah menungguku.” Citra berencana ingin menyelinap pergi diam-diam. Namun langkahnya terhenti, jantungnya berdegup kencang saat mendapati ayahnya masih duduk di teras, tapi kali ini tidak memakai kemeja safari kebanggaannya seperti biasa. Melainkan hanya mengenakan kaos biasa dan celana yang mulai kusam. Di tangannya, memegang sebuah bungkusan kecil berisi nasi putih hangat.
Ayah mengerutkan kening mendapati putrinya mematung seperti sedang melihat hantu. “Kenapa?”
“A-yah tidak berangkat kerja?” tanya Citra gugup.
“Ayah tidak bisa memberikan restu begitu saja,” ucap ayahnya tanpa menoleh. Suaranya tidak lagi menggelegar seperti kemarin. “Citra kau tahu?” sebelum melanjutkan ucapannya, terlihat Ayah Citra menarik nafas berat. “Nenekmu dulu adalah petani padi merah di tanah ini, sebelum akhirnya dia diusir oleh perusahaan tambang besar, semenjak kejadian itu ayah kehilangan semuanya.”
“Ayah menjadi seorang kontraktor seperti sekarang agar tidak ada lagi orang yang bisa mengusir kita. Tapi kemarin, pemuda itu menyadarkan Ayah. Ayah seperti menjadi monster yang dulu mengusir nenekmu sendiri. Ayah buta karena rasa sakit. Ayah sadar, ayah tidak membenci Jarum karena perbedaan cara pandang terhadap Tuhan, melainkan setiap kali ayah melihat Jarum, ayah teringat tentang luka lama ayah, itu terasa menyakitkan.” Sambung Ayah Citra.
Ayah Citra berdiri. “Ayo,” ucapnya singkat, berjalan mendahului Citra menuju hilir sungai.
Di sana, Jarum sudah menunggu di atas punggung buaya. Saat melihat Ayah Citra, Jarum menunduk dalam. Ayah Citra melangkah maju, memberikan bungkusan nasi itu kepada Jarum, lalu mengambil sejumput padi merah dari kantongnya dan menaburkannya ke air sungai sebagai tanda penghormatan pada tradisi yang dulu ia lupakan, tapi kini mulai ia hargai kembali.
“Jangan biarkan anakku lapar,” hanya itu yang keluar dari mulut ayah.
Tanpa banyak bicara, ayah berjalan lagi. Tapi kali ini, menuju pusat perayaan di Gebong Memarong—balai adat tempat ritual Nujuh Jerami berlangsung. Citra dan Jarum saling pandang, lalu mengikuti langkah kaki Ayah dengan perasaan campur aduk.
Sesampainya di sana tanpa aba-aba, Ayah Citra berjalan menuju sebuah lesung kayu besar milik keluarga Jarum. Ia mengambil alu kayu yang berat di sampingnya. Menumbuk lesung itu, bukan lesung kosong, tapi lesung yang penuh dengan padi merah.
Tuk. Tuk. Tuk.
Iramanya teratur, irama yang hanya diketahui oleh mereka yang benar-benar lahir dari tanah itu.
“Aku pulang, Akek Antak,” bisik Ayah Citra dengan air mata yang akhirnya pecah, luruh ke dalam lesung bersama bulir-bulir padi merah yang ia tumbuk. Di kejauhan, seekor buaya raksasa kembali ke dasar sungai, meninggalkan ketenangan bagi mereka yang akhirnya berdamai dengan hidup. (joyklaranaibaho)